Topik II Aksi Nyata - Perspektif Sosiokultural
Aksi Nyata Topik II
Perspektif Sosio-Kultural
dalam Pendidikan Indonesia
I Gede Made Yoga
Pradnyana, S.Pd.
2364808002
Apa
yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?
Sebelum memulai pembelajaran ada hal yang
saya pikirkan dalam proses pembelajaran yang mencakup faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendidikan Indonesia,
baik latar belakang sosial dan budaya yang menyebabkan peserta didik memiliki
latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga pembelajaran mengarah kepada
pembelajaran multikulturalisme, atau bahkan dapat berdampak buruk seperti
munculnya kesenjangan dalam lingkungan pendidik akibat pengaruh dari latar
belakang tersebut.
Jika
dilihat, faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik merupakan aspek-aspek yang
mempengaruhi pendidikan sejak jaman penjajahan dahulu. Aspek yang menjadi
faktor tersebut juga masih berpengaruh kepada pendidikan dewasa ini. Hal
tersebut merupakan hal penting yang akan terus menjadi faktor penting dalam
dunia pendidikan. Walaupun pendidikan dewasa ini sudah berbeda dari jaman
penjajahan, pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh warga Indonesia secara
umum. Namun faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik masih tetap memiliki
peran penting. Faktor-faktor tersebut melatar belakangin peserta didik degan
keberagaman atau multikultural yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran di
dunia pendidikan di Indonesia.
Apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda
pelajari dalam topik ini?
Pendidikan Indonesia bersifat eksklusif atau
khusus pada jaman kolonial. Hal ini ditunjukkan seperti pendirian sekolah
kabupaten oleh beberapa bupati pada tahun 1854 yg bertujuan khusus untuk
pendidikan calon pegawai. Sekolah bumi putra juga didirikan untuk kaum pembantu
yang akan membantu usaha-udaha dagang jaman kolonial. Secara sederhananya
seluruh pendidikan jaman kolonial memiliki tujuan khusus bukan untuk rakyat
secara umum. Hingga akhirnya muncul yayasan seperti Budi Utomo dan Taman Siswa
yang didirikan langsung oleh Ki Hajar Dewantara sebagai gerbang kemerdekaan
pendidikan Indonesia.
Faktor sosial: di Zaman penjajahan Belanda pribumi tidak memiliki kebebasan dalam
mengenyam pendidikan. Pendidikan yang diciptakan oleh bangsa kolonial hanya
untuk kaum atas. Di Zaman penjajahan Jepang, pendidikan bagi pribumi mulai
dibebaskan. Namun hal tersebut dimanfaatkan oleh pihak Jepang untuk mencari
dukungan pihak Indonesia dalam kepentingan perang Asia Timur Raya. Faktor Budaya: Pola pikir yang ditanamkan Jepang kepada rakyat
Indonesia ialah pola pikir kolonial , sehingga rakyat Indonesia banyak yang
terpengaruh propaganda jepang. Salah satu contoh berlakunya lagu-lagu Jepang
dan bahasa Jepang di sekolah-sekolah Pribumi. Faktor ekonomi: di masa kolonial, pribumi merupakan rakyat yang
berasal dari kalangan miskin dan jelata sehingga tidak memiliki kekuatan lebih.
Apalagi ketika masa penjajahan Jepang, pribumi laki-laki
dijadikan sebagai romusa, dan pribumi perempuan dijadikan budak seks untuk para
tentara Jepang. Faktor politik di masa jajahan kolonial, banyak doktrin yang diberikan
oleh pihak kolonial kepada rakyat pribumi. Hal tersebut tentu bertujuan untuk
kekuatan pemerintahan bangsa kolonial.
Apa yang anda pelajari lebih lanjut bersama
rekan-rekan anda dalam ruang kolaborasi?
Dalam ruang kolaborasi, hal yang dipelajari
adalah menganalisis kasus yang diberikan. Disana terdapat beberapa kasus yang
bersumber dari tiga bahan bacaan mencakup; “Belajar Berdemokrasi” dari buku
Mengajar untuk Perubahan, “Ray Sang Pecandu Online Game” dari buku Mengajar
untuk Perubahan, dan terakhir “Pengalaman Gerakan Pendidikan Sokola” dari buku
Melawan Setan Bermata Runcing.
Banyak
hal yang dianalisis dalam bahan literasi tersebut seperti faktor-faktor penting
yang ada dalam cerita seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Selanjutnya
menganalisis bagaimana cara guru menyikapi kasus yang ada disana, lalu
bagaimana cara kita sebagai pendidik memilih alternatif untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Terakhir pembelajaran yang didapat dari hasil analisis
tersebut bisa dihubungkan dengan mata kuliah lain untuk mengkolaborasikan pengalaman
belajar dan keterkaitannya.
Apa hal penting yang anda pelajari dari proses
demonstrasi kontekstual yang anda jalani bersama kelompok? (bisa tentang
materi, rekan, dan diri sendiri)
Demonstrasi kontekstual mengajarkan saya dan
rekan-rekan untuk berkolaborasi menyumbangkan pemikiran masing-masing. Banyak
ide-ide yang disalurkan baik dari saya dan rekan-rekan dalam menyusun bahan
persentasi dari materi yang telah disiapkan di kolaborasi. Proses persentasi
juga melibatkan banyak diskusi dari rekan-rekan dan dosen sehingga hasil
pembelajaran lebih maksimal. Banyak umpan balik, pertanyaan, saran, serta
kritik yang diberikan sehingga dapat membangun pemahaman bersama yang dapat
meningkatkan pemahaman dari saya dan rekan-rekan sejawat.
Sejauh ini, apa yang sudah anda pahami tentang
topik ini? Apa hal baru yang anda pahami atau berubah dari pemahaman di awal
sebelum pembelajaran dimulai? Apa yang ingin anda pelajari lebih lanjut?
Hal yang
saya pelajari dari topik ini sangatlah beragam, seperti mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi pendidikan Indonesia, bagaimana pendidikan di jaman
penjajahan dahulu, bagaimana SES mempengaruhi pendidikan Indonesia, serta kasus-kasus
yang terjadi dan cara mengatasi permasalahan tersebut dengan berkolaborasi
bersama rekan-rekan sejawat.
Untuk pemahaman saya di
awal pembelajaran tidak ada berubah namun lebih memahami dengan baik karena proses
belajar mengembangkan pemahaman saya terhadap topik ini seperti bagaimana
sosikultural menjadi alat psikologi dan mediasi sehingga dapat menjadi jawaban
akan keberagaman latar belakang peserta didik yang ada di Indonesia. Pandangan saya teori
sosiokultural ini sangat sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Teori
ini bisa menjadi jawaban dari tantangan guru/pendidik yang ada di Indonesia.
Sebagai calon pendidik saya akan berusaha menerapkan cara saya melakukan pembelajaran
dengan mengidentifikasi latar belakang peserta didik terlebih dahulu, ketika
sudah mengetahui maka saya dapat memilih pendekatan yang tepat, serta mengemas
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik sehingga pembelajaran akan
tepat sesuai dengan sasaran.
Bagaimana
cara mengharmonisasikan antara teori sosiokultural dengan pembelajaran yang
bersifat tradisional seperti bahasa Bali agar dapat diterima oleh seluruh
peserta didik khususnya yang memiliki latar belakang berbeda?
Apa yang anda pelajari dari koneksi antar materi baik di dalam mata
kuliah maupun dengan mata kuliah lain?
Dalam topik ini perspektif dasar sosiokultural
dalam pendidikan memiliki relefansi pada beberapa mata kuliah lain seperti
bagaimana Pemahaman Peserta Didik dan Pembelajarannya merupakan pembelajaran
yang berisi metode yang dapat digunakan dalam memahami latar belakang peserta
didik. Selanjutnya Pembelajaran Sosial Emosional juga berakaitan dimana metode
yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi peserta didik dapat diaplikasikan
dalam pembelajaran sehingga sejalan dengan materi ini. Filosofi Pendidikan
Indonesia juga memiliki kaitan dengan konsep KHD yang mendasari pendidikan
dengan multikulturalisme yang ada di Indonesia. Terakhir Prinsip Pengajaran dan
Asesmen juga dapat dikaitkan dengan perspektif sosiokultural dimana pendidikan
yang berpusat pada peserta didik dengan keberagamannya memerlukan asesmen yang
disusun berdasarkan kebutuhan mereka.
Apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan anda sebagai guru? Bagaimana
anda menilai kesiapan anda saat ini, dalan skala 1-10, apa alasannya? Apa yang
perlu anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?
Setelah
memahami konsep dasar sosiokultural, sebagai pendidik saya akan menerapkan
beberapa hal dalam pembelajaran seperti:
§
Menggunakan bahasa pengantar yang mudah dipahami peserta didik saat
pembelajaran
§
Memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin dalam pembelajaran
§
Menjadi fasilitator peserta didik untuk berdiskusi, persentasi, serta
kerja projek bersama
§
Mengikuti pelatihan yang dapat mengembangkan kompetensi diri sebagai
pendidik
§
Menghormati serta menghargai keberagaman budaya yang ada pada lingkungan
belajar agar peserta didik dapat mencontoh dengan baik.
Kesiapan saya sebagai guru dengan memahami
konsep ini masih dalam tahap pembelajaran. Semakin banyak pengalaman serta
kesempatan yang ada, maka kesiapan saya akan semakin matang. Hal ini tidak bisa
diukur sedemikian rupa karena memerlukan proses yang tidak mudah. Kolaborasi
juga diperlukan karena pada dasarnya saya memilih sebagai pendidik adalah untuk
belajar dan terus belajar baik secara mandiri, kolaborasi dengan rekan, bahkan
belajar dari peserta didik itu sendiri.
Saya menilai kesiapan saya pada angka 7 dari skala 1-10. Karena masih banyak yang perlu saya pelajari seperti menerapkan teori ini dalam praktek nyata di sekolah. Sehingga saya masih banyak perlu belajar dari pengalaman langsung yang akan saya pelajari selama menjadi pendidik kedepannya. Hal yang perlu disiapkan adalah mental saya sebagai pendidik agar semakin matang lagi, kemampuan saya memahami keberagaman sosial latar belakang peserta didik agar tidak salah menilai mereka, serta bagaimana cara saya memanfaatkan perspektif sosiokultural sebagai cara untuk menghadapi tantangan dalam menghadapi keberagaman yang ada pada peserta didik.
Comments
Post a Comment